The Miracle of LIGHTENING CONCENTRATE KAKADU PLUM

Doc. pribadi

Kesan pertama begitu menggoda, selanjutnya terserah anda…Masih ingat sama kalimat itu?Ingat dong!!!

Waktu  pertama kali bertemu dengan seseorang, kesan pertama memang sangat menentukan. Nah, biasanya ketika pertama kenal yang kita tangkap itu kesan saat melihat wajah. Bayangin kalau pertama ketemu, sudah wajah kusam, cemberut pula. Malas banget kan? Lain ceritanya kalau ketemu orang yang sudah ramah wajahnya berseri-seri. Ngobrol seberapa lamapun, jadi tidak terasa.

Saat masih umur 20an dulu, masih pede banget dengan kondisi kulit wajah. Saya, dari dulu  bukan termasuk wanita yang suka berlama-lama di depan kaca. Namun seiring bertambahnya usia, ada rasa khawatir dengan kerutan dan wajah yang kusam. Apalagi jika sudah kumpul dengan teman-teman yang sudah bermetamorfosa, kulit wajahnya pada kinclong euy...

Doc. pribadi
Before

Sedangkan kita sendiri, masih belum bisa berdamai dengan make up. Andalan cuma pelembap sama bedak padat yang luntur sekali usap. Heks...

Jujur yaa…
Saya termasuk yang tidak telaten untuk melakukan perawatan. Apalagi sampai pergi ke salon, lalu berjam-jam antri ditempat tersebut. Untuk mencoba krim-krim yang beredar di pasaran, agak parno sendiri. Takut malah merusak wajah dan hasilnya malah tidak karuan. Pengennya, perawatan yang simple dan aman untuk kulit wajah plus nggak ribet.

Untungnya, ada Zalfa miracle, halal and natural skin care for healthy skin. Saat pertama nyobain LIGHTENING CONCENTRATE KAKADU PLUM, langsung cocok rasanya. Klik gitu kalau seandainya bisa bunyinya, tsahhh…
Intensive serum yang ini cara pemakaiannya juga sangat mudah, jadi sesuai dengan tipe perempuan yang tidak suka ribet. Terutama yang kayak saya ini, pas banget di hati.

KAKADU PLUM

Waktu pertama kali mendengar namanya, memang tidak begitu familiar. Apaan itu kakadu plum? Kalau buah plum, saya masih tahu, he he he

Kakadu plum atau Terminalia Ferdinandiana ternyata adalah buah asli Australia. Makanya, saya yang orang Indonesia asli seaslinya ini fakir pengetahuan soal buah ini. Buah ini, katanya diklaim sebagai sumber alami vitamin C tertinggi di dunia. Dijuluki sebagai SUPERFRUIT, kakadu dipercaya menyimpan banyak manfaat untuk kulit. Wow banget kan?


Doc. pribadi

Buah ini juga efektif sebagai antioksidan dan anti aging, melindung kulit dari radikal bebas dan mengurangi kerutan di wajah. Vitamin C yang terkandung di dalamnya menghilangkan noda hitam serta mencerahkan kulit secara alami.
Selain ekstrak kakadu, terdapat pula niacimade yang berfungsi untuk mengurangi sebum dan mencerahkan kulit serta memudarkan bekas jerawat.  Ada juga horse chesnut yang  mengurangi peradangan pada kulit wajah. Terakhir, ekstrak castroil oil sebagai anti aging yang menstimulasi pembentukan kolagen pada kulit.

Lightening concentrate kakadu plum ini juga sudah terdaftar, halal dan teregistrasi BPOM. Aman, nggak bakal bikin khawatir yang memakainya. Mejaga kulit wajah tetap elastis, melembabkan dan menjadikan kulit tetap sehat cerah bercahaya.


Before and After

Sebagai perempuan Indonesia, plus terlahir di daerah panas dan terik, kulit saya sangat sawo matang. Lamongan euy…
Panasnya itu lhooo....
Doc. pribadi
Before and after

Setiap dibilang hitam, saya cuma nyengir dan bakal bilang nggak apa-apa. Biar hitam asal manis, nggak tahu  tambahin gula berapa kwintal. Mau bela diri gimana, sudah dari sananya. Bagi saya, yang penting kulit itu sehat dan bersih. Jauh dari iritasi, jeawat dan tidak kusam.

Efek umur itu ternyata emang nggak bisa dibohongi dan ditutupi. Memang kulit normal itu mudah perawatannya, tapi…kalau tidak di rawat ya bakal kusam. Saya tidak pernah punya masalah dengan kulit sebelumnya, hanya sedikit bete dengan komedo dan warna kulit yang tidak merata. Setelah melewati kepala tiga, kekusaman tidak dapat dihindari, apalagi kerutan yang pasti akan muncul seiring dengan bertambahnya usia.

Lightening concentrate kakadu plum, benar-benar memberikan keajaiban. Saya mencobanya selama tujuh hari terakhir setiap pagi dan menjelang malam. Cukup pencet dan keluarkan isinya di telapak tangan, usapkan pada wajah yang sudah dibersihkan dan tara...

Sejak mengunakan intensive serum ini, jadi kegenitan rasanya. Bentar-bentar ngaca, noel pipi sendiri. Believe it or not…
Kulit jadi lebih cerah, kenyal dan halus kayak pantat bayi, wew… .

Doc. pribadi
After


Komedo juga lumayan teratasi, padahal baru tujuh hari pemakaian. Kebayang kalau sudah sebulan plus dilanjut sama serangkaian perawatan dari Zalfa miracle.

Judulnya ntar, Upik Abu jadi Cinderella. Wajah jadi lebih cerah dan tentunya semakin pede buat swafoto sedekat apapun. Yakin mau nolak kalau sudah kayak gini?
Nah, buat kamu yang mau kulit lebih cerah dan jauh-jauh dari kekusaman. Lightening concentrate kakadu plum dari Zalfa ini perlu di coba. Jernihnya hatimu, terpancar lewat sinar mukamu yang berseri. Zalfa miracle, sempurnakan cantik sehatmu.


Detail info:
Price :289.000
www.zalfa.co.id
facebook : https://www.facebook.com/ZalfaCosmetics
instagram : https://www.instagram.com/zalfamiracle





Mengapa Menulis?

Boleh dibilang, sejauh ini saya lebih banyak menjadi membaca daripada menulis. Saya akan lebih lancar bercerita soal apa yang saya baca. Pengalaman menulis saya masih nol, dan jangan harap pembaca yang baik adalah penulis yang baik. Pepatah itu tidak berlaku bagi saya, pembaca adalah penikmat. Cukup baca saja, lalu diendapkan. Sesekali berimajinasi, menjadi tokoh dalam sebuah cerita yang saya baca. Absurd, tapi itulah saya.

Awalnya saya menulis, untuk diri saya sendiri. Sejak lulus Sekolah Dasar saya mulai tinggal jauh dari rumah. Diary adalah teman yang mampu saya percaya sepenuhnya, untuk jadi tempat sampah. Saya memenuhinya, layaknya remaja belasan tahun lainnya. Dan saya melakukan hal tersebut hingga menikah. Saya punya setumpuk diary, sekumpulan puisi namun akhirnya dimakan rayap. Sangat menyedihkan rasanya, saya banyak menulis namun tidak ada gunanya.

Selain menulis diary, saya juga menulis untuk majalah dinding sekolah. Sempat membuat beberapa cerpen, artikel ataupun puisi. Pernah sekali terjaring, menjadi juara harapan saat menulis resensi buku. Bahkan, saya lupa buku apa yang saya resensi waktu itu. Saat menjadi mahasiswa, saya aktif di Pers Mahasiswa. Niatnya ingin bisa menulis, namun sayangnya saya malah dipercaya jadi lay outer saat itu.

Ada satu hal menarik, yang cukup lekat di kepala saya sampai sekarang. Waktu itu, saya diminta menulis tentang suatu hal yang lumayan sensitif. Berkenaan dengan aktivitas seorang dosen di Fakultas, yang memang sudah jadi rahasia umum. Tulisan tersebut, murni saya yang menulis. Meskipun pada awalnya reportase dilakukan bersama beberapa orang teman. Untuk itu, kami menuliskan nama ‘tim redaksi’ di bawah tulisan tersebut.

Ketika terbit, masalah meluap. Salah seorang tim redaksi kami di panggil dan mendapatkan ancaman dari pihak terkait. Saya, yang waktu itu termasuk jajaran penggurus terpaksa menginap di sekret. Dan saya ingat, saya perempuan satu-satunya. Tidak sampai di situ, panggilan ke dekanat juga terjadi. Masa-masa itu membuat sedikit trauma, sedikit. Ketika dilimpahi menjadi lay outer, saya malah jarang menulis. Hanya sesekali menulis puisi, itupun untuk konsumsi pribadi.



Titik Awal

Saya tidak pernah punya inisiatif mengirim tulisan ke media, saya pasif. Tidak ada satupun yang bisa dibanggakan soal menulis. Namun saya tetap membaca, hal itu menjadi suatu kebutuhan yang tidak bisa saya tolak. Hingga akhirnya tahun 2015, saya mengenal copywriting. Kebutuhan saya menulis, hanya sebatas menulis status untuk jualan online. Namun perlahan saya terjebak lagi, di lingkaran yang dihuni banyak penulis.

Letupan-letupan kecil pun mulai muncul, saya tertantang. Mencoba mendekat pada lingkaran tersebut. Entah apa tujuannya, saya hanya ingin menulis. Mungkin sebagai wujud dari imajinasi dan ide yang telah meluber di otak saya. Sekedar ingin tanpa tahu tujuannya. Lalu saya mulai ikut kelas-kelas menulis, dari fiksi dan non fiksi. Masuk komunitas menulis, berjejaring dan beberapa kali ikut antologi.

Saya menulis karena saya suka. Sedikit chessy dan sedikit munafik mungkin. Bagi saya, menulis itu seperti memuntahkan kepenatan. Menulis bisa jadi suatu cara untuk menyampaikan apa yang ada dalam pikiran kita. Menjaga agar tetap waras, tidak tertimbun keriuhan yang tercipta dalam otak. Namun, semakin kesini saya semakin sadar. Bahwa tulisan bukan sekedar cara kita untuk menyampaikan ide. Bisa jadi tulisan adalah cara kita untuk mensosialisasikan cara berpikir kita. Membuat orang lain membaca dan menikmati. Bahkan ada kalanya sesorang itu terinspirasi. Tulisan bisa jadi sebuah media, untuk membuat orang lain merubah cara berpikir mereka.


            Akan menjadi mimpi buruk, jika sebuah tulisan mempengaruhi seseorang untuk berbuat hal yang negatif. Bagi saya itu sangat menakutkan. Saya tidak  banyak berbuat hal yang manfaat, selama hidup saya. Seharusnya, saya tidak malah membuat orang lain berbuat hal yang buruk. Jikalaupun saya menulis, setidaknya saya menulis untuk tujuan yang baik. Terlalu muluk? Mungkin iya. Saya sendiri merasa tidak cukup baik untuk bisa mewujudkan hal itu, tapi apa salahnya mencoba?

            Bismillah, memperbaiki diri itu tidak pernah mengenal kata terlambat. Saya mungkin seorang ibu rumah tangga biasa, tidak bisa menulis banyak hal. Tidak bisa membuat tulisan satire atau sarkas, tidak bisa menulis sesuatu yang berhubungan dengan politik. Namun saya yakin, saya bisa bisa sedikit menulis tentang dunia saya, lalu membaginya dengan yang lain. Dengan tujuan menebar kebaikan, saling memberi manfaat satu sama lain. Mungkin juga untuk investasi akhirat nantinya. Mari menulis, menulis untuk bisa saling memberi manfaat satu sama lain.


Jember berhujan, 15 November 2017
Ditulis untuk tugas sebuah kelas, tapi tidak jadi gegara laptop rusak



            

LAMONGAN-JEMBER-LAMONGAN

Yuhuu..
Akhirnya nulis lagi, alhamdulillah. Di hari keberapa ini? Kalender kalau nggak salah tanggal 15 Januari 2018.
Padahal resolusi 2018 itu rajin nulis di blog. Elahhh, ada saja masalah yang bikin jadi tameng dan alasan untuk sekedar bengong, sok sibuk dan melupakan target yang sudah dibuat. Begitulah, manusiawi sekali jika selalu mencari alasan. Bukannya mencari penyelesaian, kita kadang terlalu fokus pada masalahnya. Alhasil, nggak kelar-kelar, wkwkwk

Awalnya, saya ingin menulis banyak hal tentang saya, kehidupan saya di Jember dan segala sesuatu yang berhubungan dengan Jember. Kebetulan, banyak hal yang menarik menurut saya di Jember. Saya pun tinggal di kota, akses kemana saja lebih mudah. Ndilalah, banyak hal bersliweran. Hal-hal semrawut yang akhirnya menarik saya ke kota kelahiran saya, Lamongan. So, kayaknya saya perlu banting setir soal topik menulis.

Ish, mau nulis di blog kok repot banget ya? Serasa ngajuin proposal saat mau skripsian. Bingung nyari topik, bingung nyari literature plus bingung nyari dosen pembimbing. Mau nulis mah, nulis saja. Nulis blog buat curhatan kan sah saja, memenuhinya dengan puisi cerpen juga sah-sah saja kayaknya. Sayanya saja yang bingung karepe dewe, mbulet wae istilahnya.

Dan pada akhirnya, saya mengubah nama blog, biar lebih mudah ngisinya. Intinya, sekarang nulis ya nulis sajalah. Kalau kebanyakan membaca teori  malah bingung mau nulis apa, ujung-ujung buntu idenya. Padahal sebenarnya banyak hal yang bisa ditulis meskipun dari desa sekecil ini.

Hai, Lamongan, ijinkan aku berdiam diri di sini lagi. Lalu menulis tentang banyak hal dari kamar kecil yang panas tanpa kipas angin.

Saya Dan Jember

Peta Jember
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Jember


Bicara tentang Jember, rentang waktu 2004-2017 bukanlah waktu yang pendek. Bagi saya, Jember seperti rumah kedua. Tahun 2004, saya hanyalah salah satu dari puluhan atau mungkin ratusan mahasiswa baru yang terdampar di Jember. Jujur, Universitan Jember (UNEJ) bukanlah pilihan pertama. Namun, Allah tenyata menetapkan taqdir saya di kota Suwar-Suwir ini. Dimana, saya banyak mengukir kisah baik yang patut dikenang dengan senyuman ataupun sebaliknya.

Saya, seorang mahasiswa yang kebetulan masuk di Fakultas Sastra di UNEJ, memilih kost di Jalan Bangka. Fakultas Sastra yang terletak di Jalan Jawa punya dua jalan tikus, satunya dari Jawa VII. Satunya di Jalan Jawa, di sebelah pintu masuk ke Bank Jatim, Fakultas Ekonomi. Oya, jalan tikus yang di Jalan Jawa sudah ditutup sekarang, temboknya lebih tinggi lagi.

Saya punya cerita sedikit tentang jalan tikus itu, cukup seru. Jaman saya masih mahasiswa, entah karen alasan keamanan atau apa, jalan itu ditutup. Terpaksa, kami yang biasanya menggunakan jalan tersebut memutar lewat Jawa VII atau lewat Fakultas Ekonomi. Ketika hari libur, maka saya dan teman-teman akan menyusup lewat celah pagar, ataupun meloncatinya. Kalau harus muter lewat jalan utama, maka dipastikan gempor duluan.


Monumen TRiumviraat
 Universitas Jember

Hingga suatu hari, jalan tikus yang sudah ditembok itupun dirubuhkan. Saya yang kebetulan suka nongkrong di Sekret ikutan dipanggil oleh Dekanat Sastra. Biasalah, ceramah panjang kali lebar. Sempat juga seluruh UKM Sastra kumpul dan membahas hal itu. Cukup lama, jalan itu dibiarkan berlubang. Hingga akhirnya ditutup lagi dan pagarnya dibangun lebih tinggi. Saat itu saya sudah lulus kalau tidak salah.
Saya ini, termasuk mahasiswa kere yang suka beli makan di lesehan, ke kampus jalan kaki dan ngetik tugas di rental. Dari kostan ke kampus ada beberapa warung dan lesehan yang saya lewati. Untuk yang kost di daerah Bangka dengan gang angka ganjil pasti memilih jalan pintas, sebuah jalan sempit di sebelah sungai. Jalan ini lumayan serem dengan isu Penjahat Kelamin alias PK, salah seorang teman satu kost pernah jadi korban, Dia menangis ketika sampai di kostan, membuat kami merinding. Tapi besoknya kami tetap lewat situ, he he he

Banyak sekali kenangan jaman kuliah yang lekat di Jember. Apalagi kalau bicara soal kampus UNEJ, kangen rasanya kembali jadi mahasiswa. Namun, sejalan waktu kenangan itupun terkikis juga. Universitas juga sudah di face off lebih cantik dan elegan, tidak seperti UNEJ jaman dulu.

Setelah lulus, saya awalnya memang akan kembali ke Lamongan. Saya bahkan sudah sempat microteaching di salah satu sekolahan dekat rumah. Waktu itu, sebenarnya saya sudah kerja di sebuah bimbingan belajar dengan gaji yang alhamdulillah cukup buat hidup di Jember. Rencana pulang itupun gagal, ketika si bungsu menyusul ikutan kuliah di UNEJ. Dan, akhirnya saya tersesat lebih lama lagi, membuat saya merasa yakin akan menghabiskan hidup di sini selamanya. Nyatanya, Allah memberikan jalan lain, tepat di akhir 2017 lalu saya meninggalkan Jember.

Homesick Di Rumah Sendiri.
Peta Lamongan
https://id.wikipedia.org/wiki/Kabupaten_Lamongan
Hampir sebulan saya pulang di rumah, menempati sebuah kamar yang dulunya kamar ibu dan bapak. Kamar kecil yang sangat panas tanpa kipas angin, yang membuat Aqila tidak mau tidur siang. Lalu mengajak saya tidur di depan tivi saja, karena satu-satunya kipas angin ada di sana. Merasa asing di rumah sendiri, itulah saya. Sejak lulus Sekolah Dasar, saya memang dikirim bapak untuk menikmati dunia luar. Tinggal jauh dari orang tua, menjadi mandiri, keras kepala dan akhirnya menjadi sangat berbeda. Tiga tahun di daerah Gresik, lanjut di Kota Lamongan, Jakarta setahun. Sekitar 13 tahun di Jember dan akhirnya kembali lagi.

Semua terasa beda, sangat beda. Ketidak hadiran ibu diantara kami, membuat semuanya terasa beda. Saya kangen masakan beliau, kangen ngobrol di sore hari sambil guyonan. Kangen dimarahin, dibilang nggak rapi saat membuat sesuatu atau dicereweti soal mendidik anak. Kita memang tidak akan pernah siap dengan sebuah kehilangan, apalagi kehilangan yang tiba-tiba. Kehilangan yang membuat saya cukup lama kosong dan tidak fokus, lalu satu persatu kehilangan lain menyusul.

Saya merasa tidak kerasan di rumah sendiri, jujur!
Saya harus menyesuaikan banyak hal, termasuk kembali memahami dan menerima bahwa saya sekarang hidup seatap dengan bapak. Mau tidak mau, saya harus menyesuaikan banyak hal, termasuk dalam mendidik Aqila. Kembali memanage waktu, hati dan banyak hal lagi.

Kata teman saya, ini sebuah efek. Efek tidak pernah mau diam, efek sering keluyuran dan efek tidak mencintai kampung halaman. Ini jadi sebuah bahan olokan bagi kami, homesick di kampng sendiri itu karma paling menakutkan, wkwkwk


Patung Bandeng Lele

Memasuki bulan kedua, saya sudah bisa lebih sedikit rilek. Bisa menerima sinyal yang selalu nyut-nyutaan, timbul  tenggelam begitu saja. Aqila juga mulai bisa beradaptasi, mulai bicara satu atau dua kalimat dalam Bahasa Jawa. Mulai punya teman di sekolah dan tempat ngaji , tidak rewel meskipun tidak ada mini market tempat beli es krim. Intinya, kami mulai bisa menerima dan menyesuaikan diri.

Well, hidup ini memang sebuah pilihan. Mau tetap bertahan dengan segala kisah lama, atau maju selangkah ke depan dengan kisah lama yang diperbaharui. Bahkan bisa jadi hidup dengan menutup segala sesuatu dari masa lalu untuk membuka lembaran baru.

Lamongan-Jember-Lamongan

Bagi saya, ada seribu satu kisah yang patut saya telaah kembali untuk bisa memulai langkah baru di kota kelahiran saya. Mungkin, saya lahir di sini namun saya telalu banyak mbolang ke tempat lain. Jikalau akhirnya saya kembali, maka saya harus kembali berkenalan secara formal. Saya yakin, banyak hal yang telah disiapkan Allah di sini. Banyak hal perlu saya pelajari kembali agar saya bisa menemukan bagaimana hidup itu sebenarnya.

Sekali, selamat datang untuk diri saya sendiri
Banyak harapan dan impian yang hendak saya wujudkan, bismillah


Akhirnya Ngeblog Juga Euyy!!!

https://pixabay.com


Salah satu resolusi tahun 2017 saya adalah ngeblog. Maju mundur cantik, sampai bulan Oktober 2017 kemarin belum terlaksana. Banyak hal yang saya jadikan alasan. Selain tidak punya laptop, saya juga belum terbiasa nulis secara konsisten.

Boleh dibilang, kesempatan belajar terbuka lebar buat saya. Selain punya banyak teman blogger yang bisa diajak sharing, komunitas juga mendukung. Dasar sayanya saja yang masih belum bisa move on dari zona nyaman, alias males utak-utik.

Padahal, saya sudah gabung di beberapa komunitas blogger. Pernah jadi moderator di kelas blogger, di mana akses terbuka lebar buat saya. Namun yang namanya inisiatif belum jedar menyapa, saya sok sibuk sendiri.


https://pixabay.com


Hingga akhirnya, saya mulai banyak mendapat pertanyaan yang sama.
"Mbak, ngeblog juga? Linknya dong!"
Nah, di situ serasa dijedotin ke pintu tak kasat mata.
Saya harus punya blog, akhirnya saya memutuskan. Lalu saya mulai semangat lagi dan wira-wiri nyari info soal ngeblog.

Alhamdulillah, pada akhirnya saya gabung di kelas pemula untuk blogger. Di kelas tersebut, saya mendapatkan tutorial mudah belajar blog dari nol.
Tutorial diberikan dari dasar, membuat akun di platform blogspot. Selanjutnya materi lain diberikan satu persatu, mulai dari ngutak-ngutik setting blog sampai cara bikin artikel.

Saya mulai kecanduan utak-utik, menghabiskan waktu di depan laptop yang alhamdulillah akhirnya terbeli. Bagi saya, ngeblog itu gampang-gampang susah. Tergantung pada kita, mau serius dan konsistensi atau tidak.

Seorang blogger, selain harus bisa nulis dengan luwes. Maka dia juga harus siap riweh dengan urusan setting serta coding. Namun, bisa juga kita beli blog yang sudah jadi dan tinggal sulap saja. Istilahnya kita tinggal isi, tanpa harus repot ngutak-ngutik.

Mau milih mana? Bebas saja.
Bagi saya, dunia blogger itu menantang. Saya termasuk yang suka riweh, dan suka penasaran. Makanya saya ingin belajar lebih banyak lagi.
Saya sedikit menyesal, kenapa tidak dari dahulu tersesat di dunia ini. Jika tahu sedemikian asyik, tentu saya tidak akan menunda lagi. Semangat nulis, semangat ngeblog dan semangat untuk konsisten. Aamin


Sehari bersama Freelance Writing Workshop Jember #2



Mendengar istilah freelance, apa yang akan tekoneksi dalam pikiran kita? Pasti yang muncul  kata 'serabutan'. Freelance dikonotasikan dengan seseorang yang mengerjakan apa saja, asal menghasilkan. Dalam masyarakat kita, posisi ini masih dipandang sebelah mata. Ketika bekerja tanpa seragam dan tanpa kantor,  tidak banyak orang memberikan apresiasi. Ini masih banyak terjadi di Indonesia, padahal pekerjaan seperti ini jadi incaran beberapa tahun ke depan.
Termasuk menjadi seorang Freelance Writer, sangat menjanjikan.

Sekilas penjelasan tentang hal ini diberikan oleh Mbak Prita HW, pemateri dalam Freelance Writing Workshop Jember #2. Acara ini dilaksanakan tanggal 5 November 2017. Bertempat di NOG Resto, Perum Gunung Batu, Jember. Ini merupakan  workshop kedua, sebelumnya batch #1 dilaksanakan 1 Oktober 2017. The Jannah Institute, sebagai penyelenggara berkolaborasi dengan Info Muslimah Jember. Keduanya, memiliki passion  yang hampir sama di dunia kepenulisan.

Diharapkan dengan workshop ini, seluruh muslimah bisa aktif menulis. Menebar manfaat lewat dunia kepenulisan. Pesertanya mulai dari mahasiswa, umum dan bahkan ada beberapa ibu rumah tangga yang ikut serta.
Berdurasi sekitar lima jam, acara ini diramu dengan sangat baik.  Sangat seru dan tidak membosankan. Boleh dibilang cukup interaktif karena ada sesi challange yang melibatkan seluruh peserta.



Pada sesi motivasi dari Info Muslimah Jember, oleh Mbak Wardah Abeedah. Kita diingatkan pada tujuan dari menulis, sebenarnya untuk apa. Tulisan, satu hal yang bisa mempengaruhi pemikiran manusia. Menulis, hendaknya diniatkan untuk sesuatu yang membawa manfaat bagi sesama. Bagaimanapun, tulisan yang mengandung hal positif akan membawa pengaruh yang positi, dan sebaliknya juga.
Rasanya akan jadi mimpi buruk, jika tulisan kita memberikan dampak negatif bagi orang lain. Menulislah, sekali dalam seumur hidup. Menulisah, untuk investasi di akhirat. Tentu saja, dengan menulis sesuatu yang bermanfaat.



Sesi menarik lainnya adalah sesi tentang peluang yang bisa diambil oleh seorang Freelance Writer. Ketika kita menekuni dunia ini, ada beberapa peluang yang bisa kita ambil. Termasuk juga penjelasan tentang berapa penghasilan, yang bisa didapatkan. Boleh dibilang, hal ini salah satu moodboster buat para pemula. Untuk bisa konsisten dan fokus menulis.
Setidaknya ada  beberapa peluang yang bisa kita ambil, antara lain;

1. Ghoswriter

Ghostwriter, artinya kita akan menulis baik itu buku, artikel , serta teks lainnya  untuk dipakai orang lain. Tentu saja ada kesepakatan yang telah disetujui sebelumnya, karena nama yang dipakai bukan nama kita, melainkan orang lain.

2. Blogger

Banyak sekali blogger yang sudah bisa monetize blog mereka sehingga bisa menghasilkan. Seorang Blogger  bisa meraup rupiah yang cukup lumayan. Biasany akan sepaket dengan kemampuan untuk menjadi buzzer, endorse maupun review produk.

3. Citizen Journalis

Peluang ini juga cukup mengiurkan, disini kita boleh dibilang sebagai kontributor lepas. Kita bisa menulis isu maupun peristiwa yang aktual dan mengirimkannya ke portal berita ataupun surat kabar.

4.Penulis Fisksi (Cerpenis/ Penulis Buku)

Bagi yang suka fiksi, maka peluang ini bisa diambil. Banyak majalah, surat kabar maupun media elektronik yang menerima cerpen. Jika bisa membuat buku fiksi, kita juga bisa menerbitkannya lewat jalur indie maupun major.

5. Penulis Biografi

Masih belum banyak yang menekuni peluang satu ini, padahal penghasilannya boleh dibilang cukup lumayan. Menulis biografi memang tidak mudah, butuh ketelitian dan kesabaran saat mengumpulkan data. Namun, semuanya pasti terbayarkan dengan hasilnya.

6. Conten Writer

Menjadi seorang conten writer memang belum booming seperti lainnya, namun peluang satu ini boleh dibilang cukup menarik. Bahkan, sekarang banyak dicari seiring dengan perkembangan dunia online. Conten writer ini biasanya juga mempunyai peluang untuk menjadi admin online fanpage maupun instagram bisnis.

7. Copywriter

Copywriting adalah sebuah tulisan yang ditujuan untuk menjual sesuatu, semacam soft selling. Ini biasanya dibutuhkan oleh toko-toko online yang sedang marak saat ini.


Sebenarnya, masih adalagi peluang lainnya. Banyak peluang  yang cukup menarik, ketika kita menjadi  freelance writer. Tinggal bagaimana bisa fokus dan konsisten untuk menulis. Akan lebih baik lagi, jika kita bisa fokus pada satu bidang. Mulai menulis dari sekarang, jangan menubda.  Jangan lupa membuat portofolio jika memang ingin berkecimpung di dunia ini.
Jadi, masih ragu untuk jadi seorang freelancer writer?

Lima alasan untuk jatuh cinta dengan kota Jember

Sebelumnya, saya tidak pernah mengenal dan tahu seperti apa kota Jember itu. Tidak ada sanak saudara yang tinggal di Jember, kami juga belum pernah berkunjung. Tahun 2004, kebetulan saya diterima di Universitas Jember. Waktu itu, Jember belum seramai sekarang. Hampir 13 tahun tinggal di sini, dan tahun kemarin saya resmi memegang KTP sebagai warga Jember.
Selain karena suami saya asli Jember, saya juga mulai jatuh cinta pada kota yang terkenal dengan suwar-suwirnya ini.

Jika saya di tanya kenapa saya bisa jatuh cinta, tentu banyak alasannya. Bagi saya, ada banyak kenangan yang sudah saya lalui, dan itu membuat kota ini istimewa.  Selain itu, Jember juga memiliki banyak hal unik yang membuat siapapun bisa tertarik untuk berkunjung . Bahkan lebih parah lagi, bisa jatuh cinta dan memutuskan untuk menetap. Seperti saya, awalnya merasa tersesat tapi menikmatinya.
Paling tidak ada lima hal yang mungkin bikin kamu juga tertarik datang dan bahkan tinggal di kota Jember.

1. Jember merupakan kota terpadat ketiga di Jawa Timur.





Bicara soal kota Jember tidak lepas dari Universitas Jember yang berdiri sejak tahun 1957.
Sebagai Universitas terbesar di wilayah Timur Jawa, UNEJ membawa gelombang massa yang cukup banyak tiap tahunnya. Boleh dibilang inilah salah satu sebab, kenapa Jember bisa menduduki peringkat ketiga kota terpadat setelah Surabaya dan Malang.
Jadi Jember juga termasuk kota besar, tapi tetap nyaman dan asri untuk dijadikan tempat tinggal.

2. Jember dan Pendalungan

https://jemberkab.go.id/category/wisata-budaya/

Konsep Pendalungan sendiri hampir mirip dengan konsep melting pot di Amerika, di mana ada percampuran beberapa etnik dalam suatu wilayah. Pandhalungan berasal dari kata 'dhalung' yang artinya periuk besar. Di sini, Jember diibaratkan periuk besar yang menampung percampuran beberapa budaya yang melebur menjadi kebudayaan yang baru.
Inilah yang membuat Jember menjadi kota yang menarik, Jember merupakan sebuah kota dengan berbagai macam etnik, mulai dari Jawa, Madura, Osing bahkan Cina. Hal inilah yang membuat kota ini cukup unik dan layak untuk dicintai.

3. Bahasa Jemberan

Kalau di Malang ada bahasa wolak-walik, Surabaya dengan Cak-Cuk, maka Jember pun punya Jemberan.

" Duh kah, cek lamanya se kamu, aku dari tadi nungguin ndak selesai-selesai."

Sumpah, saya melongo waktu pertama kali berkomunikasi dengan teman saya yang asli Jember.


Kalau pernah ke Jember, dan tinggal lama di kota ini. Maka kita tidak akan asing lagi dengan bahasanya yang punya ciri khas tersendiri sebagai budaya Pendalungan.
Bahasa Jember merupakan bahasa yang berasal dari bahasa Madura, Jawa, Osing dan Bahasa indonesia.
Beberapa kosa-kata Jemberan yang biasa dipakai misalnya:

Gak omes: tidak sabar
Maara : Ayolah
Kok megeli : Sangat menjengkelkan
Ndek mana : Di mana
Gak ra : Nggak ah

Pengen belajar bahasa Jemberan? Singgah atau bahkan tinggal di sini bisa jadi solusi tepat!

4. Jember kota wisata

Doc. Pribadi
Salah satu hal yang saya suka di Jember adalah destinasi wisatanya yang cukup banyak dan murah meriah.
Bicara soal destinasi wisata pantainya saja  tidak cukup di kunjungi dalam sehari. Ada cukup banyak pantai, mulai dari Watu Ulo, Papuma, Payangan, Bandealit, Puger, Paseban, Nusabarong, Pancer dan masih ada beberapa pantai lagi.
Jangan lupa dengan destinasi air terjun, ada Tancak, Sumber Salak,  Antrokan, Manggisan. Rembangan dengan peternakan sapi dan pemandiannya.
Belum lagi Taman Botani Sukorambi, Meru Betiri, Kebun cokelat Renteng, Mumbul Garden sampai Nusa Barong.
Selain itu ada juga perayaan Buka giling di Semboro, Situs Duplang, serta  ikon budaya seperti Tari Lahbako, Can macanan kaduk, Musik Patrol dan masih banyak lagi.

5. Jember Fashion Carnival



http://m.liputan6.com/lifestyle/

Jember Fashion Carnival atau yang lebih fenomenal sebagai JFC merupakan salah satu ikon kota Jember sekarang. JFC sangat banyak menarik wisatawan untuk datang berkunjung dan menyaksikannya. JFC digelar sebagai salah satu event tahunan yang biasanya di gelar untuk ikut merayakan Perayaan hari kemerdekaan Indonesia di bulan Agustus.
JFC merupakan karnaval yang cukup menyedot massa baik penduduk asli maupun dari luar kota. Kalau tidak mau terjebak macet saat ke Jember, hindari berkunjung di hari JFC di adakan.

Cukup menarik bukan?
Jadi tunggu apalagi? Welcome to Jember, Suwar-suwir city.